“Udara yang sejuk menambah keakraban dua orang teman yang sedang asyik ngobrol di taman belakang kampus, seorangnya bernama Rara dan seorang lagi bernama Tasya. Mereka baru kenal beberapa bulan yang lalu, saat perkuliahan baru dimulai, namun keduanya dengan cepat bisa menyesuaikan diri, dan langsung akrab. Banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk pengalaman-pengalaman mereka waktu masih SMA dulu.”
…
“Ra, buku apa yang kamu pegang itu?” oh, ini Diary sahabat ku, tapi dia telah tiada beberapa bulan yang lalu, karena penyakit yang dideritanya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…maaf ya Ra, kamu pasti sayang banget sama dia, sampai-sampai diary dia kamu bawa kemana-kemana.
Bagaimana ya…, bagi ku dia bukan sekedar sahabat saja tapi sudah aku anggap seperti saudara kandungku sendiri, dari dia aku banyak belajar berbagai hal. “ehm…kenapa dia begitu berarti buat kamu? Emang dia anak siapa dan dari kalangan apa?” hmm…dia bukan anak orang terkenal ko, dan dia juga bukan dari kalangan apa pun. Dia hanya orang biasa dan dari kalangan sederhana. Justru, dari status dia itulah aku banyak belajar. “oh…, aku jadi penasaran nich. Eh, namanya siapa?” namanya Fathul Ghina, kalau kamu penasaran baca aja diarynya ini, aku yakin kamu pasti bangga bangga padanya setelah membacanya, dan banyak pelajaran yang kamu dapat dari cerita hidupnya. “memang boleh aku membacanya?” tentu boleh.
Sorry Sya, aku ada kuliah lagi… (sambil melihat arloji yang ada di tangannya) oh…ga papa, ntar lain kali kita sambung lagi ceritanya. Thanks… nich diarynya, kamu baca aja…Assalamu’alaikum…
Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarkatuh…(Rara pun pergi menuju ruangan tempat kuliahnya).
….
“Rasa penasaran menyelimuti hati Tasya, cepat-cepat dia melangkah pulang menuju kos-kosannya begitu usai kuliah. Tak lama kemudian azan berkumandang, tak buang waktu. Tasya langsung mengambil air wudhu dan shalat. 15 menit kemudian bersiap untuk membaca diary yang membuat dia penasaran sejak pertama kali melihatnya.”
Bismillahirrahmanirrahim…
Ya Allah… diperjalanan hidupku yang singkat ini banyak cobaan yang Kau hadirkan untukku, namun begitu banyak juga nikmat yang Kau beri untukku. Terimakasih yang tulus ku ucap pada-Mu.
Di usiaku yang sangat muda, kala aku masih duduk dikales 4 SD, karna keadaan ekonomi kelurga aku harus meninggalkan bangku sekolah. Suasana rumah pun tak harmonis lagi, pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi. Ayah yang sangat aku banggakan pergi meninggalkan aku, Ibu, dan 4 saudaraku yang lain tanpa uang sepeser pun. Sepeninggalan Ayah kami semua makan hanya dengan lauk bawang goreng atau kecap. Beberapa bulan kemudian Ayah datang menjemput kami semua untuk pindah kekota lain.
Disinilah kehidupan kami yang baru dimulai….
Dalam hayalku, kami sekeluarga akan tinggal disebuah rumah yang besar dan makan dengan layak. Hayalan hanyalah hayalan, karna kenyataannya tak seperti yang aku hayalkan. Kami sekelurga tinggal disebuah toko yang berukuran 4 x 4 m dan tidur hanya beralaskan kardus bekas.
Satu bulan sudah aku dan keluarga tinggal ditempat itu…
Keadaan ekonomi yang tak berkembang menggerakkan hatiku untuk bekerja walaupun sebenarnya aku sangat ingin bersekolah lagi. Setiap subuh aku pergi kerumah sebuah kelurga yang tak jauh dari tempatku tinggal, disitulah aku bekerja hingga pukul 15.00. Sore harinya seusai ashar aku pergi lagi kepasar, untuk bentu Ayah berjualan hingga jam 2 subuh. Begitulah rutinitasku sehari-hari, dalam satu hari aku hanya tidur 3 jam.
Satu tahun berlalu…
Dari penghasilanku bekerja, akhirnya aku bisa bersekolah kembali. Sekolah tidak mengubah rutinitasku, hanya saja aku tak bekerja mulai dari subuh lagi, namun seusai sekolah. Tapi itu semua tak membuahku mengeluh atau pun lelah. Semangatku mengalahkan rasa lelahku.
…
“Alhamdulillah… terimakasih ya Allah atas nikmat yang Kau beri, dari kecil aku tak perlu bekerja dulu untuk bisa sekolah.” Kata Tasya dalam hatinya.
Keadaan ekonomi membaik, kami sekelurga pun pindah ketempat yang lebih layak untuk 7 orang. Namun, pindah ketempat yang lebih nyaman tidak membuat susana rumah lebih harmonis dari sebelumnya, justru sebaliknya. Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, kami sekelurga berhasil melewatinya.
Sekolahku pun berjalan lancar dan aku tidak perlu takut putus sekolah lagi, karena prestasi yang aku dapat aku dibebaskan dari uang SPP dan selalu memperoleh biayasiswa. Menjelang ujian nasional, aku sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu yang lumanyan lama. Alhamdulillah…aku sembuh sebelum ujian nasional.
Tak terasa aku sudah berseragam SMP…
Dibangku SMP, banyak pengalaman baru yang aku dapatkan. Selama bersekolah di SMP rutinitas sehari-hari pun tidak berubah. Pagi sekolah, siang bekerja, dan malamnya membantu Ayah berjualan.
Saat duduk dikelas 3 SMP lagi-lagi aku sakit dan masuk rumah sakit lagi. Namun kali ini, dokter menyarahkan untuk diperiksa lebih lanjut lagi. Saat mengetahui hasilnya, aku sangat kaget dan putus asa karena aku mengidam penyakit yang mematikan, dokter bilang aku kena kanker otak.
…
Beberapa bulan semangat ku untuk belajar dan bekerja tidak ada lagi, karena pada saat itu aku merasa tak ada gunanya lagi aku belajar dan bekerja karena aku berpikiran sebentar lagi aku juga akan mati. Namun, keluarga tak henti-hentinya menghibur dan menyemangatiku.
Beberapa bulan aku merasa tak bersemangat semua kewajibanku sebagai muslim pun aku tinggalkan, karena aku pada saat itu aku merasa Tuhan tidak sayang padaku. Rasa syukur, karena itu tak berlangsung lama, kelurga yang sangat menyayangiku menyadarkan dan membangkitkan semangatku lagi.
Alhamdulillah… aku kembali seperti dulu lagi, aktivitasku pun berjalan seperti biasa. Aku pun lulus dengan nilai yang memuaskan, dan aku masuk SMA terfavorit.
…
Teman baru, seragam baru, dan lingkungan baru menambah semangatku untuk tetap belajar dan bekerja. Namun, beberapa bulan di SMA kesehatanku semakin menurun, fisikku semakin lemah, itu membuat aku sering absen dari kelas. Aku pun berhenti bekerja, karena larangan dari orangtua.
Masa-masa SMA sangat menyenangkan buat aku, masa dimana aku banyak mengalami perubahan. Ingat akan kematian yang mungkin sebentar lagi. Karena tidak bekerja lagi, ku lakukan semua kegiatan yang ingin aku lakukan. Perubahan yang paling indah buatku adalah, hati kecilku tergerak untuk mengubah penampilanku, tepat saat duduk dikelas 2 aku mulai mengenakan jilbab. Aku pun selalu mengikuti kegiatan pengajian disekolah dan dilingkungan tempatku tinggal, dan lebih mendalami lagi tentang ilmu agama.
Sama seperti remaja lainnya aku juga mengalami yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta… aku tak pernah berani membuka hati untuk seorang cowo dan punya hubungan spesial. Karena sadar akan penyakitku dan takut untuk menyakiti.
Dalam hatiku masih punya keinginan kuat untuk berprestasi dan bisa membanggakan orang tua, tapi untuk perasaan suka sama seseorang tidak bisa dihindari karena itu kehendak-Nya. 4 bulan sebelum ujian nasional, aku dekat dengan seorang cowo. Dia teman satu kelaas. Namun kedekatanku hanya sebatas sms dan telepon, disekolah, kami berdua seolah-olah tidak saling kenal. Karena memang sudah jadi kesepakatan kami berdua. Dari dia aku banyak diajarkan berbagai hal yang sebelumnya tidak aku tahu, khususnya mengenai pelajaran-pelajaran disekolah, dan dari kahidupannya aku banyak mengambil pelajaran. Cara hidupnya yang mandiri dan semangatnya untuk sukses, memicu semangatku untuk lebih berprestasi lagi.
Setelah beberapa bulan tak disangka kedekatanku diketahui teman-teman satu kelas dan itu membuat aku jadi bahan olokan dan bahkan dijadikan musuh oleh beberapa cewe yang ternyata menaruh rasa padanya. Memang hal yang wajar kalau banyak cewe yang menyukainya, karena dia anak yang cerdas dan berprestasi. Untuk menghindari perkelahian dengan teman, aku putuskan untuk tidak berhubungan dengan dia lagi. Namun dia tidak terima dengan keputusan itu.
…
Tak terasa seminggu lagi ujian nasional akan berlangsung, alhamdulillah kesehatanku stabil. Dalam seminggu kegiatanku hanya belajar, rasa senang dihati karena tiap malam belajar sambil ditemani sidia biarpun hanya lewat Hp. Hari menegangkan pun tiba, tapi semua berjalan dengan lancar.
Hari pengumuman kelulusan akhirnya datang juga, semua siswa tegang menunggu hasil pengumuman termasuk aku. Perasaan saat itu bercampur semua, rasa senang karena akhirnya aku bisa menyelesaikan SMA, sedih karna akan berpisah dengan teman-teman, dan yang lebih sedih lagi aku tidak bisa berjumpa dengan sidia lagi karena dia akan melanjutkan sekolah keluar kota, namun ada rasa bangga karena lulus dengan nilai yang memuaskan.
…
Tak terasa malam sudah larut, Tasya pun tertidur setelah baca diary Fathul Ghina.
…
Besok paginya dikampus…
Assalamu’alaikum… Wa’alaikumsalam…sahut Tasya. Gimana Sya, sudah kamu baca diarynya? “yup…sudah aku baca, benar Ra yang kamu bilang, banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil dari cerita kehidupan Fathul Ghina, rasa syukur menyelimuti hatiku karena bisa bersekolah bahkan hingga kuliah seperti ini tanpa bekerja terlebih dahulu.” Yup…kamu benar Sya, kamu mau tau ga kelanjutan ceritanya? “mau-mau…”
Hmm…setelah acara perpisahan, Fathul masuk rumah sakit dan harus dirawat inap karena penyakitnya semakin parah. Hari-hari terakhirnya dihabiskan di runah sakit, hampir semua teman-teman yang kenal dengan Fathul datang menjenguk dan mendoakan kesembuhannya. Satu yang membuatku terharu, cowo yang dekat dengan Fathul selalu menemaninya di rumah sakit, dia tak pernah meninggalkan Fathul. Semua teman-teman dan aku sendiri kaget saat mendengar kabar Fathul masuk rumah sakit karena sakit kanker otak, karena selama kami berteman dengannya, dia tidak pernah bercerita tentang penyakitnya. Yang kami tau, dia sering ga masuk sekolah karena sakit, tapi kami semua ga tau dia sakit apa. Mungkin dia tidak mau menyusahkan orang lain dan tidak ingin orang lain iba padanya hanya karena dia sakit. Bahkan saat terakhirnya pun dia tersenyum.
Ya…begitulah ceritanya, banyak yang membanggakan dari Fathul. Dia cewe yang tegar dan baik pada semua orang, tapi sayang hidupnya sangat singkat. Tapi dihidupnya yang singkat dia manfaatkan dengan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang tuanya dan semua orang yang dikenalnya. “kamu benar Ra, aku saja iri padanya, begitu tegarnya dia dalam menjalani hidupnya yang penuh cobaan.” Yup…kamu benar. Sorry. Sya…10 menit lagi aku ada perkuliahan, aku pergi duluan ya, assalamu’alaikum… wa’alaikumsalam.
…
By. Risnawati